This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label kisah hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Agustus 2015

Kisah seorang pemuda miskin dan pemilik restoran yang baik

MUHASABAH MALAM
Kisah seorang pemuda miskin dan pemilik restoran yang baik

Tersebutlah seorang pemuda ,katanya mengawali, dari desa yang sedang melanjutkan pendidikan di universitas di kota.Setiap sore pemuda ini datang ke restoran sederhana yang ada disudut jalan. Pemuda ini hanya mampu membeli semangkuk nasi tanpa menu apapun. Pemilik restoran sepasang suami istri muda,memperhatikan anak muda itu.Mereka tahu bahwa pemuda miskin ini berasal dari desa yang sedang berjuang dikota menyelesaikan pendidikannya..
" Aku beri kuah daging untuk mu agar kamu bisa menikmati semangkut nasi dengan lahap" Kata suami pemilik restoran itu..
" Apakah ini gratis?
" Ya."
Seusai makan malam, pemuda ini memesan nasi bungkus untuk dia makan keesokannya. Suami pemilik restoran itu membungkus semangkuk nasi itu namun dibawah nasi itu disisipkan daging dan telur. Pemuda itu tidak melihat sama sekali perbuatan suami pemilik restoran itu. Kecuali istrinya melihat kelakuannya.
" Mengapa kamu beri dia telor dan daging secara diam diam? Kata istrinya dengan berbisik
" Pemuda itu terpelajar. Dia tidak akan meminta walau dia miskin namun dia punya harga diri. Tugas kita memberinya tanpa merendahkan kehormatannya."
"Mulia sekali hatimu. Kamu beri dia dan kamu jaga kehormatannya.."
"Kalau hatiku tidak baik mana mungkin aku dapatkan istri secantik kamu"
Ketika menyerahkan bungkusan nasi itu ,suami pemilik restoran itu berkata " Ini nasimu. Besok datang lagi saya. Tetap bersemangat ya .." nampak pemuda itu berlinang haru. Sejak saat itu setiap sore pemuda ini singgah ke restoran mereka. Sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari. Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat universitas. Selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.
Pada suatu hari pemerintah mengumumkan bahwa tanah restoran tempat mereka menggantungkan hidup berpuluh tahun akan terkena gusuran untuk dibangun proyek. Sepasang suami istri ini merasa kehilangan pagutan untuk membiayai anaknya sekolah dan biaya hidup mereka. Dalam keadaan putus asa, mereka hanya menatap restoran mereka digusur. Namun pada saat itu munculah seorang petugas meminta mereka datang ke kantor perusahaan. Sesampai dikantor perusahaan, petugas membawa mereka ketempat yang menyerupai restoran yang megah. "Ini restoran untuk melayani semua karyawan di perusahaan ini. Semua milk anda.Anda bisa langsung mengelolanya"kata petugas itu.
"mengapa anda begitu baik.
"Bukan saya tapi direktur saya.."
"Bisakah kami bertemu dengan direktur anda yang berhati mulia itu?
Petugas itu membawa mereka kedalam kantor dimana sang direktur berada..Seorang pria gagah nampak menyambut mereka dengan membungkukkan tubuhnya " sayalah yang telah memberikan itu semua karena daging dan telor yang anda sisipkan dibawah semangkuk nasi. Saya berhutang seumur hidup dengan anda. Berkat anda saya tetap kuat untuk menyelesaikan pendidikan saya dan kini saya sukses sebagai pengusaha. Jangan bersedih, anda terlalu mulia bagi saya untuk saya tak henti berterima kasih.."
...." memberi adalah perbuatan mulia dan membalas budi adalah lebih mulia.Hidup ini indah bila kita semua mau berbagi dan pandai berterimakasih.is that right ABAH.." saya mengangguk dan tersenyum karena memang bersahabat untuk saling mengingatkan..😀






Selasa, 28 Juli 2015

Sandal Jepit Istriku

SANDAL JEPIT ISTRIKU
sandal jepit istriku
Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh... betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin nggak ketulungan.
"Ummi... Ummi, kapan kau dapat memasak dengan benar...? Selalu saja, kalau tak keasinan...kemanisan, kalau tak keaseman... ya kepedesan!"
Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.
"Sabar bi..., Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul...? " ucap isteriku kalem.
"Iya... tapi abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini...!" Jawabku dengan nada tinggi.
Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak.
***
Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan 'baiti jannati' di rumahku. Namun apa yang terjadi...?
Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak (pecah). Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur, dan cucian... ouw... berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci.
Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.
"Ummi...ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini...?" ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Ummi... isteri sholihat itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah...?" Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu.
"Ah...wanita gampang sekali untuk menangis...," batinku berkata dalam hati.
"Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihat...? Isteri shalihat itu tidak cengeng," bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai dipipinya.
“Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali," ucap isteriku diselingi isak tangis.
"Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda..." Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.
***
Bi..., siang nanti antar Ummi ngaji ya...?" pinta isteriku.
"Aduh, Mi... abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?" ucapku.
"Ya sudah, kalau abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan," jawab isteriku.
"Lho, kok bilang gitu...?" selaku.
"Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam bus dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa," ucap isteriku lagi.
"Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja," jawabku ringan.
Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai.
Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal.
"Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu," aku membatin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh.
"Oh....bukankah ini sandal jepit isteriku?" tanya hatiku.
Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.
"Maafkan aku Maryam," pinta hatiku.
"Krek...," suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping.
Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar.
Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berbaya gelap dan berjilbab hitam melintas.
"Ini dia mujahidahku!" pekik hatiku.
Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri. Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku.
Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: "Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya."
Sedang aku..? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku...? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!!
"Maryam...!" panggilku, ketika tubuh berbaya gelap itu melintas.
Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia.
"Abi...!" bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini.
"Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?" sesal hatiku.
***
Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya.
"Alhamdulillah, jazakallahu...,"ucapnya dengan suara tulus.
Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan 'iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku...?
Semoga berguna bagi kita semua....amin ya rabbal alamien
Wassalam
Hamba Allah
‪#‎copas‬ FP kawanimut